TREN TINDIK HIDUNG DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM FIQIH

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Dieraglobalisasi remaja/pemuda dan pemudi sekarang ini cenderung meniru kebudayaan barat yang mana kebudayaan barat tidaklah keseluruhan di dalamnya berdampak positif baik dalam bidang ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, maupun adat istiadat melainkan bisa jadi berdampak negatif sehingga perlu adanya filter untuk tidak terpengaruh dari berbagai budaya mereka yang telah masuk ke Indonesia melalui teknologi ,dan sosial (dari kebiasaan-kebiasaan).

Seiring dengan perjalanan waktu dan berkembangnya ilmu dan teknologi diera globalisasi saat ini maka semakin menekan proses akulturasi budaya barat yang kehadirannya seakan mendominasi dan selalu menjadi trend-centre masyarakat yang diantaranya tren menindik hidung sebagaimana orang India.
Kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia sebenarnya memiliki dampak positif dan negatif bagi masyarakat Indonesia. Dampak positif misalnya, kreatifitas, inovasi pengembangan ilmu pengetahuan, dan dijadikan bisnis online. Dampak negatifnya kebudayaan asing atau barat terhadap masyarakat Indonesia khususnya kalangan remaja sudah sampai tahap memprihatinkan karena ada kecenderungan para remaja sudah melupakan kebudayaan bangsanya sendiri dan kebiasaan para leluhur terdahulu. Budaya ikut-ikutan atau latah terhadap cara berpenampilan, mengikuti trend menindik hidung mereka dll.Karena bagi para remaja tidak ingin dikatakan kuno, kampungan kalau tidak mengikuti cara berpakaian ala barat karena menurut mereka dinilai modern, tren dan mengikuti perkembangan zaman.

Pertanyaannya.
Bagaimana sebenarnya menindik hidung ditinjau dari perspektif hukum fiqih?


Waalaikum salam.
Jawaban.

Menindik anggota tubuh seperti hidung, lidah, pusar dan kelopak mata semua itu dihukumi haram secara mutlak, selain telinga, kenapa diharamkan, karena melubagi hidung termasuk tindakan ekstream yang dianggap tidak sebagai berhias yang di tolelir kecuali oleh segelintir kalangan saja. Beda halnya dengan apa yang dilakukan pada telinga, menggantungkan perhiasan di telinga merupakan perhiasan wanita.
Dengan demikian hukum menindik hidung hukumnya haram kerena termasuk dalam kategori merubah ciptaan Allah, berbeda dengan dengan telinga bagi perempuan untuk hiasan maka hukumnya boleh sebagaimana Thahir bin ‘Asyur mengatakan:

وَلَيْسَ مِنْ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ التَّصَرُّفُ فِي الْمَخْلُوقَاتِ بِمَا أَذِنَ اللَّهُ فِيهِ وَلَا مَا يَدْخُلُ فِي مَعْنَى الْحُسْنِ فَإِنَّ الْخِتَانَ مِنْ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ وَلَكِنَّهُ لِفَوَائِدَ صِحِّيَّةٍ، وَكَذَلِكَ حَلْقُ الشَّعْرِ لِفَائِدَةِ دَفْعِ بَعْضِ الْأَضْرَارِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ لِفَائِدَةِ تَيْسِيرِ الْعَمَلِ بِالْأَيْدِي، وَكَذَلِكَ ثَقْبُ الْآذَانِ لِلنِّسَاءِ لِوَضْعِ الْأَقْرَاطِ وَالتَّزَيُّنِ

Artinya, “Tindakan pada ciptaan Allah yang diizinkan juga yang bukan ditujukan untuk mempercantik tidak termasuk dalam kategori mengubah ciptaan Allah. Praktik sunat merupakan pengubahan terhadap ciptaan Allah, namun membawa manfaat bagi kesehatan, begitu pula mencukur rambut untuk kepentingan menangkal penyakit, memotong kuku untuk kepentingan memperlancar pekerjaan yang melibatkan tangan, dan juga tindik telinga perempuan untuk dipakaikan anting dan berhias” (Muhammad Thahir bin ‘Asyur, At-Tahrir wa at-Tanwir, [Tunis, al-Dar al-Tunisiyah lil Nasyr, 1984]. Jilid V, halaman 205).

نهاية الزين ص ٣٨٥
وحرم تثقيب أذن ) قال الزيادي والأوجه أن ثقب أذن الصغيرة لتعليق الحلق حرام لأنه لم تدع إليه حاجة وغرض الزينة لا يجوز بمثل هذا التعذيب هذا ما قاله الغزالي في الإحياء وأفتى بذلك الشيخ الرملي ورجح في موضع آخر الجواز وهو المعتمد كذا في تحفة الحبيب أما خرم أذن الصبي فحرم قطعا كما يحرم خرم الأنف ليجعل فيه حلقة من ذهب أو نحوه ولا فرق في ذلك بين الذكر والأنثى ولا عبرة باعتياد ذلك لبعض الناس في نسائهم

حاشية بجيرمى على الخطيب ج ٢ ص ٢٦٠
قال الشريف الرحماني : وخرق الأنف لما يجعل فيه من نحو حلقة نقد حرام مطلقا ، ولا عبرة باعتياد ذلك لبعض الناس في نسائهم وأذن الصبي كذلك ، ولا نظر لزينته بذلك دون الأنثى ، فيجوز خرق أذنها على المعتمد من إفتاءين للرملي متناقضين . وعبارة الرملي في شرح الزبد : وأما تثقيب آذان الصبية لتعليق الحلق فحرام لأنه جرح لم تدع إليه حاجة
صرح به الغزالي في الإحياء وبالغ فيه مبالغة شديدة ، قال : إلا أن ثبت فيه من جهة النقل رخصة ولم يبلغنا . وقوله : فحرام ضعيف ، وفي الرعاية في مذهب الإمام أحمد : يجوز تثقيب آذانالصبية للتزيين ويكره ثقب أذن الصبي اه بحروفه. والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *