HUKUM MEMOTONG KUKU KORELASINYA DENGAN ORANG YANG INGIN BERQURBAN DAN ORANG YANG SEDANG HAJI(IHROM)

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah
Dalam waqiiyah dimasyarakat tidak sedikit mereka yang ingin melakukan qurban dibulan Dzul hijjah, atau sedang berhaji melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama seperti memotong kuku dan mencukur bulu-bulu yang berada dianggota badan seperti rambut kumis dan jenggot , itu semua terjadi kerena ketidak tahuan tentang hukum tersebut atau karena unsur lupa.

Pertanyaannya

Bagaimana sebenarnya hukum memotong kuku korelasinya dengan orang yang ingin berqurban dan orang yang sedang melakukan ibadah haji ( ihrom )?

Waalaikum salam
Jawaban.

Bagi orang yang ingin melakukan ibadah qurban mulai tgl 1-10 dilarang memotong kuku bahkan mencabut bulu-bulu yang berada dianggota badan, pelarangan ini tidak hanya bagi orang yang ingin berqurban melainkan bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji yakni berihrom ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW,

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

Artinya: “Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.” (HR Muslim).

Dalam hadits diatas perlu dirinci penjelasannya dari beberapa aspeknya melalui Redaksi Hadits berikut :

  حدثنا ابن أبي عمر المكي، حدثنا سفيان، عن عبد الرحمن ابن حميد ابن عبد الرحمن ابن عوف، سمع ابن المسيب يحدث، عَن أم سلمة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذا دَخَلَتِ الْعَشْرُ، وأراد أحدكم أن يضحي، فلا يمس من شعره وبشره شيأ. (رواه مسلم)

Artinya: Meriwayatkan hadits kepada kami Ibnu Abi Umar Al-Makky, bercerita kepada kami Sufyan, dari Abdurrahman bin Humaid bin Abdirrahman bin Auf. Ia mendengar Ibn Al-Musayyab menceritakan dari Ummi Salamah bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda: Jika hari kesepuluh telah tiba, dan salah satu di antara kalian ingin menyembelih Kurban, maka jangan menyentuh (memotong) apa pun dari rambut pada kulit kalian. (HR Muslim, nomor 1977)   Penjelasan Dirayah (Sanad Hadits)

Hadits ini menjelaskan tentang larangan mencukur rambut dan memotong kuku ketika telah memasuki tanggal 1- 10 Dzulhijjah bagi orang yang hendak atau memiliki niat menyembelih kurban. Demikian pula terdapat hadits yang menjelaskan bahwa larangan ini adalah ketika memasuki hilal Dzulhijjah.

Hadits dari Ummi Salamah di atas termuat di dalam Sahih Muslim (nomor 1977), Ibnu Majah (nomor 3149), dan At-Thahwi dalam Syarh Musykil Al-Atsar (no: 5511). Terdapat beberapa perbedaan lafadz hadits mengenai mencukur rambut ketika hendak menyembelih ini. Adapun hadits yang dikutip di atas adalah dari Sahih Muslim.

Hadits paralel yang lain dari Sahih Muslim adalah: Hadits dari Ishaq bin Ibrahim, dari Sufyan, dari Abdurrahman bin Humaid nom Abdirrahman bin ‘Auf, dari Sa’id bin Musayyab dari Ummi Salamah; Hadits dari Hajjaj bin As-Sya’ir, dari Yahya bin Katsir Al-Anbary, dari Syu’bah dari Malik bin Nas dari Umar bin Muslim dari Sa’id bin Al-Musayyab. Dari Ummi Salamah; Hadits dari Ahmad bin Abdullah bin Al-Hakam Al-Hasyimi, dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Malik bin Anas, dari Umar (atau ‘Amr) bin Ja’far, ((atau)) dari Syu’bah, dari  Malik bin Anas, dari Umar (atau) ‘Amr bin Muslim; Hadits dari Abdullah bin Mu’adz Al-Anbary, dari Ayahnya, dari Muhammad bin ‘Amr Al-Laitsy, dari Umar bin Muslim bin Ammar bin Akya’ah Al-Laitsy; Hadits dari Hasan bin Ali Al-Halwani, dari Abu Usamah, dari Muhammad bin ‘Amr, dari ‘Amr bin Muslim bin Ammar Al-Laitsy; Hadits dari Harmalah bin Yahya dan Ahmad bin Abdurrahman; dari Abdullah bin Wahab dari Haywah, dari Khalid bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Umar bin Muslim Al-Junda’i, dari Ibni Al-Musayyab. (Abi Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Minhaj Syarhu Sahih Muslim bin Hajjaj, hal. 1257-1258).  

Hikmah Dijelaskan bahwa hikmah dari larangan ini adalah bahwa semua anggota tubuh kita sekecil apa pun akan diselamatkan dari api neraka. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa larangan tersebut untuk menyerupai (tasybih) larangan bagi orang yang sedang ihram untuk menyembelih dan berburu hewan apa pun.

بشرى الكريم ٢/١٢٨
و يكره) لمريد التضحية عن نفسه او اهداء شئ من النعم (ان يزيل شيئا من شعره او غيره) كظفره و سائر اجزائه الظاهرة الا الدم على خلاف فيه (فى عشر ذى الحجة) و ما بعدها من ايام التشريق ان لم يضح يوم العيد (حتى يضحى) للامر بالامساك عن ذلك في خبر مسلم. و حكمته شمول المغفرة و العتق من النار لجميعه لا التشبه بالمحرمين و الا لكره نحو الطيب و قيل يحرم مالم يحتاج اليه و عليه احمد فان احتاج فقد يجب كقطع يد سارق و ختان بالغ و قد يسن كختان صبي و قد يباح كقطع سن وجعة

Akan tetapi dikalangan Syafiiyyah mengatakan bahwa pendapat terakhir ini adalah salah. Karena alasan seperti: pada saat ihram kita diperintahkan untuk tidak memakai wewangian, namun dalam berkurban tidak demikian.
(An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim bin Hajjaj: 1257).   Implikasi Hukum Fiqih dari Hadits ini Hukum fiqih didasarkan kepada adanya perintah (amr) atau larangan (nahy) di dalam suatu nash baik Al-Qur’an maupun hadits. Dari adanya redaksi perintah atau larangan tersebut lalu kita akan meneliti lebih lanjut tentang apakah perintah tersebut menyatakan kewajiban, anjuran, atau kebolehan.

Dari redaksi larangan, kita akan dapat meneliti lebih lanjut apakah larangan itu masuk ke dalam pernyataan haram, atau makruh. Tentunya kesemuanya itu berdasarkan dalil petunjuk (qarinah) yang ada setelah memperbandingkan dengan nash-nash (ayat atau hadits yang lain).  

Di dalam kasus teks hadits di atas sebagaimana dikutip dari Sahih Muslim di atas, terdapat larangan yang menyatakan:  

فلا يمس من شعره وبشره شيأ

Artinya: “…. maka jangan menyentuh (memotong) sesuatu apa pun dari rambut dan kulitnya.”   Apa konsekuensi hukum dari larangan memotong rambut (dan semua rambut di tubuh) ini? Adakah ia menghendaki haram ataukah makruh?

Dari sini terdapat perbedaan pendapat para ulama tentang hukum memotong kuku bagi orang yang ingin berqurban.

✔️Menurut Abu Hanifah memotong kuku tidak makruh.

✔️Menurut Imam Malik hukumnya memotong kuku tidak makruh dalam suatu riwayat, dan menyatakan makruh dalam riwayat yang lain.

✔️Menurut Imam Syafi’i dan pengikutnya menyatakan bahwa hal tersebut adalah makruh (makruh tanzih) dan bukanlah haram..

✔️ Menurut  Imam Hambali adalah wajib tidak dipotong tidak dipotong bukan sunnah sebagaimana dihikayatkan wajibnya tidak memotong kuku dari Sa”ed bin Musayyab dan Rabiah dan, Ishaq bin Rawaih, Abi Dawud, dan sebagian dari kalangan Syafi’iyyah mengatakan bahwa hal tersebut hukumnya adalah haram memotongnya. Keharamannya ini sampai selesai ia disembelihnya hewan kurban. Sebagaimana keterangan Dalam kitab al-Mausu’atul Fiqhiyah dan juga (An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim bin Hajjaj: 1257)   Pendapat yang menyatakan haram didasarkan kepada beberapa hadits (An-Nawawi: 1257).

الموسوعة الفقهية الكويتية .ص٢١٠-٢١١
  
وَقَال الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ: يُسَنُّ لِمَنْ يُرِيدُ التَّضْحِيَةَ وَلِمَنْ يَعْلَمُ أَنَّ غَيْرَهُ يُضَحِّي عَنْهُ أَلاَّ يُزِيل شَيْئًا مِنْ شَعْرِ رَأْسِهِ أَوْ بَدَنِهِ بِحَلْقٍ أَوْ قَصٍّ أَوْ غَيْرِهِمَا، وَلاَ شَيْئًا مِنْ أَظْفَارِهِ بِتَقْلِيمٍ أَوْ غَيْرِهِ، وَلاَ شَيْئًا مِنْ بَشَرَتِهِ كَسِلْعَةٍ لاَ يَضُرُّهُ بَقَاؤُهَا، (٣) وَذَلِكَ مِنْ لَيْلَةِ الْيَوْمِ الأَْوَّل مِنْ ذِي الْحِجَّةِ إِلَى الْفَرَاغِ مِنْ ذَبْحِ الأُْضْحِيَّةِ. وَقَال الْحَنَابِلَةُ: إِنَّ ذَلِكَ وَاجِبٌ، لاَ مَسْنُونٌ، وَحُكِيَ الْوُجُوبُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَرَبِيعَةَ وَإِسْحَاقَ. وَنَقَل ابْنُ قُدَامَةَ عَنِ الْحَنَفِيَّةِ عَدَمَ الْكَرَاهَةِ. (٤) وَعَلَى الْقَوْل بِالسُّنِّيَّةِ يَكُونُ الإِْقْدَامُ عَلَى هَذِهِ الأُْمُورِ مَكْرُوهًا تَنْزِيهًا، وَعَلَى الْقَوْل بِالْوُجُوبِ يَكُونُ مُحَرَّمًا. وَالأَْصْل فِي ذَلِكَ حَدِيثُ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: إِذَا دَخَل الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْبَشَرِهِ شَيْئًا. (١)
وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى عَنْهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَل ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ. (٢)وَالْقَائِلُونَ بِالسُّنِّيَّةِ جَعَلُوا النَّهْيَ لِلْكَرَاهَةِ.وَالْحَدِيثُ الدَّال عَلَى عَدَمِ تَحْرِيمِ الْفِعْل هُوَ حَدِيثُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: كُنْتُ أَفْتِل قَلاَئِدَ هَدْيِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يُقَلِّدُهُ وَيَبْعَثُ بِهِ وَلاَ يَحْرُمُ عَلَيْهِ شَيْءٌ أَحَلَّهُ اللَّهُ لَهُ حَتَّى يَنْحَرَ هَدْيَهُ. (٣) قَال الشَّافِعِيُّ: الْبَعْثُ بِالْهَدْيِ، أَكْثَرُ مِنْ إِرَادَةِ التَّضْحِيَةِ فَدَل عَلَى أَنَّهُ لاَ يَحْرُمُ ذَلِكَ.
وَالْحِكْمَةُ فِي مَشْرُوعِيَّةِ الإِْمْسَاكِ عَنِ الشَّعْرِ وَالأَْظْفَارِ وَنَحْوِهِمَا قِيل: إِنَّهَا التَّشَبُّهُ بِالْمُحْرِمِ بِالْحَجِّ، وَالصَّحِيحُ: أَنَّ الْحِكْمَةَ أَنْ يَبْقَى مُرِيدُ التَّضْحِيَةِ كَامِل الأَْجْزَاءِ رَجَاءَ أَنْ يُعْتَقَ مِنَ النَّارِ بِالتَّضْحِيَةِ.

Pendapat ini juga mengambil hukum asal dari larangan, yaitu haram. Dan dengan demikian membatalkan qiyas. Di samping itu para ulama yang mengatakan makruh adalah dengan jalan memperbandingkan hadits Aisyah yang sifatnya umum. Adapun hadits dalam masalah ini adalah hadits khusus yang harus didahulukan. Al-Atsyubi di dalam Syarah Sunan Nasai mengatakan:  

ومقتضى النهي التحريم وهذا يرد القياس ويبطله، وحديثهم عما وهذا خاص يجب تقديمه بتنزيل العام على ما عدا تناوله الحديث الخاص.

Artinya: “Tuntutan dari larangan itu (pada dasarnya) adalah haram. Dan ini membatalkan qiyas. Sedang hadits mereka (yang menyatakan makruh) adalah hadits yang umum. Sedang hadits (tentang larangan mencukur rambut) ini adalah hadits khusus yang harus didahulukan.

Dengan menghilangkan keumuman atas yang selain apa yang dikhususkan oleh hadits khusus. (Al-Atsyubi (33), hlm277) .

Adapun pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan tidak makruh memiliki alasan tersendiri. Hal ini menyatakan konsekuensi logisnya bahwa mengikuti anjuran hadits tersebut di atas adalah juga tidak mustahab (sunnah). Alasannya, bagi Imam Abu Hanifah, kemakruhan dan keharaman sesuatu itu hanya bisa diputuskan dengan dalil khusus yang menyatakan hal itu (As-Sya’rani, Al-Mizan Al-Kubra, 1: 52).

Dengan demikian, Imam Abu Hanifah menyamakan implikasi hukum dari hadits di atas adalah sebagaimana perintah makan dan minum dalam ayat yang berimplikasi pada hukum mubah.   Sedangkan Imam Syafi’i yang menyatakan makruh tanzih didasarkan kepada hadits lain dalam Sahih al-Bukhari:

  عن عائشة رضي الله عنها قالت: (كنت أفتل قلائد هدي رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم يقلده ويبعث به ولا يحرم عليه شيء أحل الله حتى ينحر هديه) رواه البخارى ومسلم

  Artinya: Dari Aisyah radliyallahu ‘anha berkata: “Saya memintal tali kekang unta Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah mengalungkan tali itu dan mengirimkannya. Serta Nabi tidak mengharamkan sesuatu apa pun yang dihalalkan oleh Allah hingga untanya disembelih” (HR al-Bukhari dan Muslim).   Berdasarkan hadits di atas, secara qiyas aulawiyyah Imam Syafi’i berpendapat bahwa mengirimkan unta itu lebih kuat dari sekadar menginginkan berkurban (unta). Sedangkan mengirimkan saja Nabi tidak mengharamkan memotong rambut dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa hadits larangan memotong rambut dan kuku sebagaimana disebutkan di atas tidak menunjukkan keharaman.   Oleh karenanya maka makna larangan dalam hadits di awal wacana ini dibawa kepada makna makruh tanzih. (An-Nawawi, hlm: 1258). Demikian pula konsekuensi logisnya bahwa tidak memotong rambut dan kuku adalah mustahab menurut Imam Syafi’i. Karena ittiba’terhadap nash ada dua pilihan, bisa wajib atau mustahab. Dan menentang apa yang ada di dalam nash bisa pula dua kemungkinan yaitu: haram atau makruh. Sedangkan dalam masalah hadits di atas, telah dibuktikan kemakruhan dari makna larangan tersebut. Sehingga mengikuti larangan itu hukum sebaliknya adalah mustahab (disukai). (As-Sya’rani, (1) hlm:52).  

Jadi Menurut Empat Mazhab, hukumnya memotong kuku terdapat hilaf, menurut Syafiiyah dan sahabat-sahabatnya hukumnya makruh tanzih bagi orang yang tidak dalam kondisi melakukan ibadah haji. Akan tetapi jika orang sedang melakukan haji ( ihrom ) ulama’ sepakat atas larangan melakukan beberapa hal yang seharusnya boleh dilakukan di luar ihram tetapi menjadi haram selama jamaah haji dalam keadaan ihram. Jamaah haji yang melanggar larangan tersebut kan terkena sanksi yang berkaitan dengan ibadah hajinya.

Syekh Abu Syuja dalam Taqrib menyebut sepuluh hal yang menjadi larangan sepanjang seseorang menunaikan ibadah haji di tanah suci. Semua larangan ini memiliki konsekuensi bila dilanggar oleh jamaah haji yang bersangkutan.

فصل ويحرم على المحرم عشرة أشياء لبس المخيط وتغطية الرأس من الرجل والوجه من المرأة  وترجيل الشعر وحلقه وتقليم الأظفار والطيب وقتل الصيد وعقد النكاح والوطء والمباشرة بشهوة

Artinya, “Pasal. Jamaah haji yang sedang ihram haram melakukan sepuluh hal: mengenakan pakaian berjahit, menutup kepala bagi laki-laki, menutup wajah bagi perempuan, mengurai rambut, mencukur rambut, memotong kuku, mengenakan wewangian, membunuh binatang buruan, melangsungkan akad nikah, dan berhubungan badan. Demikian juga dengan bermesraan dengan syahwat.”

Namun demikian, pandangan Abu Syuja diberi catatan oleh para ulama Syafiiyah sesudahnya. KH Afifuddin Muhajir mendokumentasikan catatan verifikasi para ulama Syafiiyah tersebut. Menurutnya, sebagian larangan haji yang disampaikan Syekh Abu Syuja masuk ke dalam makruh, bukan larangan haji.

ـ (وترجيل) أي تسريح (الشعر) وهذا ضعيف والمعتمد أنه مكروه

Artinya, “(Mengurai) melepas (rambut). Pendapat ini lemah. Pendapat yang muktamad menyatakan bahwa hokum mengurai rambut adalah makruh bagi jamaah haji yang sedang ihram,” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Al-Maktabah Al-Asadiyyah: 2014 M/1434 H] halaman 92).

Sedangkan Syekh Nawawi Banten menerangkan kelonggaran perihal larangan potong kuku dan rambut atau bulu yang keberadaannya cukup “mengganggu”. Ia menerangkan bahwa potong kuku atau potong sedikit rambut yang menghalangi mata dibolehkan tanpa konsekuensi sanksi.

والخامس  تقليم الأظفار أي إزالتها من يد أو رجل بتقليم أو غيره إلا إذا انكسر بعض ظفر المحرم وتأذى به فله إزالة المنكسر فقط) ولا فدية عليه وكذلك إذا طلع الشعر في العين وتأذى به فله إزالته

Artinya, “(Kelima memotong kuku. Maksudnya, menghilangkan kuku tangan dan kuku kaki dengan cara memotong atau cara lainnya. Tetapi , jika sebagian kuku jamaah haji yang sedang ihram tersebut terbelah dan ia menjadi sakit (terganggu) karenanya, maka ia boleh memotongnya) dan tidak perlu membayar fidyah. Demikian halnya dengan kemunculan rambut atau bulu di mata, dan ia menjadi terganggu karenanya, maka ia boleh mengguntingnya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Tausyih ala Ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, halaman 125).

Meskipun terdapat pengecualian, secara umum semua larangan ini mengandung konsekuensi. Pelanggaran terhadap larangan ini secara umum mengharuskan jamaah haji untuk membayar fidyah baik berupa kambing, puasa, atau sanksi lainnya.

Pelanggaran terberat adalah hubungan seksual yang berdampak pada kerusakan ibadah haji seorang jamaah di tahun tersebut dengan kewajiban meneruskan rangkaian ibadah hajinya hingga selesai, dan kewajiban mengqadhanya pada tahun selanjutnya.

وفي جميع ذلك الفدية إلا عقد النكاح فإنه لا ينعقد ولا يفسده إلا الوطء في الفرج ولا يخرج منه بالفساد في فاسده

Artinya, “Semua larangan itu (jika dilanggar) terdapat sanksi fidyah kecuali akad nikah, maka nikahnya tidak sah. Tidak ada yang merusak haji kecuali larangan hubungan badan melalui kemaluan. Jamaah haji yang melakukan hubungan badan tidak boleh keluar dari rangkaian ibadah haji karena telah rusak ibadahnya (tetapi menyelesaikannya hingga selesai).

Adapun pelarangan tersebut diatas “Bukan hanya sebatas kuku dan rambut, tetapi juga bagian tubuh yang lain tangan, gigi, kumis, janggut dan lain lai. Sedangkan hikmah dibalik itu semua adalah agar semuanya mendapatkan ampunan dan terbebas dari api neraka. Ketentuan ini berlaku baik untuk kurban sendiri atau kurban hadiah.

Sementara, ulama Mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat tidak makruh. Tetapi, Imam Malik dalam riwayat lain berpendapat makruh dan dalam salah satu riwayat berpendapat haram dalam kurban sunnah dan tidak haram dalam kurban wajib.

Sanksi bagi Pelanggar” Dikutip dari buku Panduan Doa-Dzikir Haji & Umrah karya Deden Hafid Usman dkk, memotong kuku saat melaksanakan haji adalah perkara yang dilarang dan diwajibkan membayar dam atau denda bagi pelakunya. Namun, hal itu tidak membatalkan haji yang diamalkannya.

Semenyara, menurut Sayyid Sabiq dalam dalam kitabnya Fiqih Sunnah, menjelaskan bahwa bagi orang yang berihram dan punya uzur (halangan) lalu melakukan larangan ihram, seperti mengenakan pakaian berjahit, mencukur rambut, memotong kuku (tangan dan kaki), memakai wewangian, maka baginya wajib membayar fidyah berupa menyembelih kambing, atau memberi makan kepada enam orang miskin, atau juga berpuasa selama tiga hari.

فقه السنة للسيد سابق. ص ٦٦٧

تقليم الاظفار وإزالة الشعر بالحلق، أو القص أو بأية طريقة، سواء أكان شعر الرأس أم غيره لقول الله تعالى: ” ولا تحلقوا رؤوسكم حتى يبلغ الهدي محله “.
وأجمع العلماء: على حرمة قلم الظفر للمحرم، بلا عذر، فإن انكسر، فله إزالته من غير فدية.
ويجوز إزالة الشعر، إذا تأذى ببقائه، وفيه الفدية إلا في إزالة شعر العين إذا تأذى به المحرم فإنه لافدية فيه

إلى أن قال- حكم من ارتكب محظورا من محظورات الاحرام: من كان له عذر، واحتاج إلى ارتكاب محظور من محظورات الاحرام، غير الوطء (١) ، كحلق الشعر، ولبس المخيط اتقاء لحر، أو برد، ونحو ذلك، لزمه أن يذبح شاة، أو يطعم سنة مساكين، كل مسكين نصف صاع، أو يصوم ثلاثة أيام. وهو مخير بين هذه الامور الثلاثة. ولا يبطل الحج أو العمرة بارتكاب شئ من المحظورات سوى الجماع.
عن عبد الرحمن بن أبي ليلى، عن كعب بن عجرة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر به زمن الحديبية فقال: ” قد آذاك هوام رأسك ” قال: نعم. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: ” احلق، ثم اذبح شاة نسكا، أو صم ثلاثة أيام، أو أطعم ثلاثة آصع من تمر على ستة مساكين “.
رواه البخاري، ومسلم، وأبو داود.
وعنه في رواية أخرى، قال: أصابني هوام في رأسي، وأنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام الحديبية حتى تخوفت على بصري، فأنزل الله سبحانه وتعالى: ” فمن كان منكم مريضا أو به أذى من رأسه ففدية من صيام أو صدقة أو نسك. ” فدعاني رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال لي: ” احلق رأسك، وصم ثلاثة أيام، أو أطعم ستة مساكين فرقا (١) من زبيب. أو انسك شاة، فحلقت رأسي ثم نسكت “. وقال الشافعي غير المعذور على المعذور في وجوب الفدية، وأوجب أبو حنيفة، الدم، على غير المعذور إن قدر عليه لا غير، كما تقدم. ما جاء في قص بعض الشعر: عن عطاء قال: إذا نتف المحرم ثلاث شعرات فصاعدا، فعليه دم (٢) . رواه سعيد بن منصور.وروى الشافعي عنه: أنه قال في الشعرة مد، وفي الشعرتين مدان. وفي الثلاثة فصاعدا دم.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Ka’ab bin Ujrah mengatakan, “Kepalaku diganggu kutu saat aku bersama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyyah hingga aku khawatir akan penglihatanku. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat (kepada Rasulullah SAW), ‘Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepala (lalu dia bercukur), dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban,’ (QS Al Baqarah: 196)

Lalu Rasulullah SAW memanggilku, lantas beliau bersabda, ‘Cukurlah rambutmu, lalu berpuasalah selama tiga hari, atau berikanlah satu faraq anggur kering kepada enam orang miskin, atau sembelihlah kambing.’ Aku kemudian memilih memotong rambutku, lantas menyembelih kambing.” (Hadits Shahih)

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa: Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa memotong rambut dan kuku ketika masuk tanggal 10 Dzulhijjah bagi yang hendak kurban, adalah boleh, tidak makruh dan tidak haram. Imam Malik dalam sebagian riwayat mengatakan makruh. Akan tetapi dalam riwayat lain beliau mengatakan tidak makruh. Imam Syafi’i mengatakan makruh berdasarkah hadits dari Aisyah di dalam Shahih Bukhari. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan haram berdasarkah dzahir hadits larangan tersebut. Sedangkan apabila seseorang dalam kondisi sedang melakukan ibadah haji ( ihrom) hukum memotong kuku adalah harom, dan jika melanggar maka ia wajib membayar fidyah atau dam.Wallahu A’lam bisshowab.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *