HUKUM SHALATNYA ORANG YANG DILONCATI KUCING TERBAWA KEKITA SUJUD

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah.

Kucing merupakan hewan yang banyak digemari oleh banyak orang sehingga tidak sedikit dalam rumah sepi dari kucing, dari gemarnya terkadang hingga beli kucing anggora bahkan sebagian diyakini kucing membawa berkah bagi pemiliknya.

Oleh karena itu bagi seseorang yang memiliki kucing hendaknya jangan sampai memukulnya apalagi mengurungnya melainkan peliharalah dengan baik yaitu dengan cara diberi makan dan minum jika bertemu dengannya .
Merawat kucing tidak hanya akan meningkatkan keberkahan dalam rumah, tetapi juga akan mendatangkan pahala sedekah bagi pemiliknya.
Katakanlah seorang Mahmud shalat dalam kondisi sujud tiba-tiba kucing peliharaannya meloncat berada dipunggungnya hingga i’tidal beralih naik didekat lehernya sedangkan Mahmud tetap tidak melemparkannya karena dia merasa kasihan.

Pertanyaan:
Bagaimana hukum shalatnya Mahmud sementara ketika shalat diloncati kucing dipunggungnya?

Sholatnya Mahmud tetap sah tanpa hilaf, selama kucing yang berada dipunggungnya tidak menanggung najis ( tidak terkena najis). Meski kucing rentan terkena najis, namun jika secara fisik dhohirnya tidak terlihat ada najisnya, maka ia dihukumi suci. Akan tetapi sebaliknya, jika jelas kucing ada najisnya maka hukum sholatnya batal.

المجموع شرح المهذب – ١٢٨٣/٩٧٩٢
قال المصنف رحمه الله
(وإن حمل حيوانا طاهرا في صلاته صحت صلاته لأن النبي صلى الله عليه وسلم حمل أمامة
بنت أبي العاص في صلاته ولأن ما في الحيوان من النجاسة في معدن النجاسة فهو كالنجاسة التي في جوف المصلي وإن حمل قارورة فيها نجاسة وقد سد رأسها ففيها وجهان أحدهما يجوز لأن النجاسة لا تخرج منها فهو كما لو حمل حيوانا طاهرا والمذهب أنه لا يجوز لأنه حمل نجاسة غير معفو عنها في غير معدنها فأشبه إذا حمل النجاسة في كمه)
(الشرح)
حديث أمامة رواه البخاري ومسلم وهي أمامة بنت زينب بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم واسم أبي العاص مهشم بكسر الميم وإسكان الهاء وفتح الشين المعجمة وقيل لقيط وقيل ياسر وقيل القاسم بن الربيع بن عبد العزى بن عبد مناف القرشية كان النبي صلى الله عليه وسلم يحبها تزوجها علي بن أبي طالب بعد وفاة فاطمة وكانت فاطمة أوصته بذلك رضي الله عنهم (أما) حكم المسألة فإذا حمل حيوانا طاهرا لا نجاسة على ظاهره في صلاته صحت صلاته بلا خلاف وإن حمل حيوانا مذبوحا بعد غسل موضع الدم وما على ظاهره من النجاسة لم تصح صلاته بلا خلاف وفيه وجه في البحر صرح به الأصحاب منهم القاضي أبو الطيب لأن في باطنه نجاسة لا حاجة إلى استصحابها بخلاف الحي ولو تنجس منفذ الحيوان الحي كطائر ونحوه فحمله ففي صحة صلاته وجهان أصحهما عند الغزالي الصحة ويعفى عنه كالباقي على محل نجو المصلي وأصحهما عند إمام الحرمين لا يصح وبه قطع المتولي وهو الأصح لعدم الحاجة إلى احتمالها 
بغية المسترشدين
كل  عين لم تتيقن نجاستها لكن غلبت النجاسة في جنسها كثياب الصبيان و جهلة  الجزارين و المتداينين من الكفار بالنجاسة كأكلة الخنازير ارجح القولين  فيها العمل باﻷصل وهو الطاهرة

Setiap  sesuatu yang belum pasti kenajisannya, tapi biasa najis dalam sejenisnya seperti baju anak kecil dan tukang jagal yang bodoh, maka yang paling unggul dari dua pendapat ialah mengamalkan pendapat yang asal, yaitu suci.
Namun demikian, jika kucing tersebut terlihat ada najisnya, maka ia dihukumi terkena najis. Karenanya, ia menyentunya maka shalatnya tidak sah karena dinilai bersentuhan dengan najis. Namun jika kelihatannya kucing tersebut tidak terkena najis maka sholatnya tetap sah.
Ini merujuk pada ajaran dan praktik Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah pernah bersabda bahwa kucing bukanlah hewan najis, dan seringkali ditemui di sekitar manusia.
Nabi SAW pernah bersabda tentang hewan kucing. Dalam riwayat dari Abu Qatadah, Nabi bersabda: “Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita.” (HR At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ahmad, Malik)
Hal ini menunjukkan pentingnya memberikan perhatian dan perawatan kepada makhluk tersebut, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Kucing, seperti hewan lainnya, juga bertasbih kepada Allah SWT. Namun, manusia seringkali tidak memahami bahasa yang diucapkan oleh hewan-hewan tersebut.
“Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka,”
Hal ini menjadi sebuah refleksi akan pentingnya penghormatan terhadap kehidupan, termasuk keberadaan hewan di sekitar kita.

Bahkan dikisahkan Nabi tidak mengganggu kucing yang sedang tidur di atas sajadah atau kainnya, menunjukkan sikap lembut dan penyayang yang harus ditiru oleh umat Islam dalam memperlakukan hewan di sekitar mereka.
Menjaga kucing atau hewan lainnya juga merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT.
Merawat makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan baik dapat membawa berkah dan kebaikan dalam hidup seseorang.
Oleh karena itu, menjadikan kucing sebagai hewan peliharaan dan memberikan perhatian serta kasih sayang kepada mereka dianggap sebagai amalan yang dianjurkan dalam agama.Wallahu A’lam bisshowab.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *