HUKUM SEORANG AKHWAL MENIKAHI SEORANG SYARIFAH

HUKUM SEORANG AKHWAL MENIKAHI SEORANG SYARIFAH

Asslamualaikum.
Deskripsi masalah

Nasab adalah Keturunan yang terhubung atau bersambung Kepada Nabi SAW yang kemudian di panggil dengan sebutan Sayyid atau Habib.!
Sedangkan Nasib adalah Bagian dari hasil usaha dengan mujahadah atau riyadhoh.!dengan Ilmu, Amal dan ketaqwaan yang tententunya butuh pembimbing atau guru yang sanatnya bersambung kepada Rasulullah karena tanpa adanya pembimbing sulit dapat mengantarkan pada tingkatan derajat yang mulia sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya” [HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah]

Nasabnya itu tidak bisa mengejar derajat mulia di sisi Allah. Karena kedudukan mulia di sisi Allah adalah timbal balik dari amalan (Ilmu) yang baik dan benar, bukan dari nasab.Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam ayat,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian Nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS. Al Mu’minun : 101).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan,“Siapa saja yang amalnya itu kurang, maka kedudukan mulianya tidak bisa menolong dirinya” (Syarh Shahih Muslim, 17: 21).

Dalam hukum sosial karena cinta belas kasih kepada umat Muhammad saw, para anak keturunannya dipanggil sayyid atau Habib untuk penghormatan. Akan tetapi, ilmu, amal, taqwa dan akhlak tidak bisa diwarisi layaknya nasab keturunan. Ilmu, amal dan Taqwa adalah Hubungannya dengan “nasib”, bukan nasab. Harus diusahakan dengan cara menuntut ilmu, agar menjadi orang yang bertaqwa, disebutkan العلم بالتعلم لابالنسب .Jika tidak maka seorang keturunan Nabi Muhamad saw tidak akan dapat warisan ke utamaan ilmu dan Taqwa dari Nabi saw.
Dari kedua pengertian antara Nasab dan Nasib lalu timbul musykil sebagaimana yang terjadi dimasyarakat Indonesia sehingga terjadi pro dan kantra yaitu pernikahan antara syarifah dan Ahwal.

Pertanyaannya.
Bagaimana sebenarnya Hukum seorang Akhwal Menikahi seorang Syarifah atau pria keturunan biasa menikahi wanita dari kalangan syarifah menurut fiqh ?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Ditinjau dari sudut pandang fiqih bahwa dalam pernikahan bisa sah jika memenuhi syarat dan rukun nikah maka terkait dengan kasus diatas dijelaskan dalam leteratur fiqhul Islami Wadillah bahwa kufu’ ( kesepadanan ) dalam kasta keturunan bukan merupakan syarat untuk keafsahan penikahan, melainkan kufu’ sebagai syarat didalam mempertahankan pernikahan , lebih lanjut dalam sebuah literatur Fiqh yang diterbitkan oleh kementrian urusan waqaf dan agama Kuwait (al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa diantara hal yang menjadi pertimbangan dalam kesepadanan (kufuah) menurut Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali adalah keturunan (nasab). Kalangan Hambali meredaksikannya dengan kalimat “al mansib”. Hal itu berdasar kepada pernyataan sayyidina Umar yang menyatakan “Sungguh aku akan mencegah farji wanita-wanita yang memiliki kasta keturunan, kecuali dari orang-orang yang sepadan.” Di dalam sebuah riwayat diungkapkan “Apa yang dimaksud dengan kesepadanan?”, beliau menjawab “Dalam hal keturunan”, dan karena kalangan arab memegang teguh kesepadanan dalam keturunan, mereka juga membanggakan diri dengan keluhuran nasab dan keturunan, memandang rendah dari menikahi budak, bahkan beranggapan bahwa hal itu merupakan aib dan cacat, dan karena kalangan arab memiliki kelebihan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan yang menjadi pertimbangan dalam kontek “kasta keturunan” adalah bapak, karena mereka berbangga diri dengan para bapak, bukan para ibu. Orang yang memiliki garis keturunan mulia tidak sepadan dengan orang yang tidak memilikinya. Maka laki-laki yang bapaknya dari kalangan selain arab (bukan sayyid/habib) walaupun ibunya dari kasta arab (syarifah) tidak sepadan dengan wanita dari kasta arab walaupun ibunya dari kalangan selain arab, karena sesungguhnya Allah telah memilih kalangan arab dan membedakannya dari yang lain dengan keistimewaan yang melimpah, sebagaimana yang telah dilegitimasikan oleh beberapa hadits. Imam Malik dan Imam Sufyan al Tsauri lebih memilih untuk tidak menjadikan keturunan sebagai pertimbangan dalam kesepadanan. Diucapkan kepada Imam Malik “Sesungguhnya sebagian kalangan membedakan antara arab dan hamba, maka mereka memandang hal itu sebagai satu hal yang sangat penting.” Imam Malik menjawab “Penduduk Islam secara keseluruhan adalah sepadan antara sebagian dengan sebagian yang lain, hal ini berdasar kepada firman Allah di dalam al Qur’an “Surat Al-Hujurat ayat 13.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ – ١٣

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Asbabun Nuzul Surat Al-Hujurat Ayat 13

Imam Suyuthi dalam kitab tafsirnya Al-Durr Al-Mantsur fi Tafsir Bil-Ma’tsur menyebutkan dua kisah turunnya surat al-Hujurat ayat 13:

‎أخرج ابْن الْمُنْذر وَابْن أبي حَاتِم وَالْبَيْهَقِيّ فِي الدَّلَائِل عَن ابْن أبي مليكَة قَالَ: لما كَانَ يَوْم الْفَتْح رقي بِلَال فَأذن على الْكَعْبَة فَقَالَ بعض النَّاس: هَذَا العَبْد الْأسود يُؤذن على ظهر الْكَعْبَة وَقَالَ بَعضهم: إِن يسْخط الله هَذَا يُغَيِّرهُ فَنزلت {يَا أَيهَا النَّاس إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ من ذكر وَأُنْثَى} الْآيَة
‎وَأخرج ابْن الْمُنْذر عَن ابْن جريج وَابْن مرْدَوَيْه وَالْبَيْهَقِيّ فِي سنَنه عَن الزُّهْرِيّ قَالَ: أَمر رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم بني بياضة أَن يزوّجوا أَبَا هِنْد امْرَأَة مِنْهُم فَقَالُوا: يَا رَسُول الله أتزوّج بناتنا موالينا فَأنْزل الله {يَا أَيهَا النَّاس إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ من ذكر وَأُنْثَى}

Kisah pertama: pada saat Rasulullah memasuki kota Mekkah dalam peristiwa Fathu Makkah, Bilal bin Rabah naik ke atas Ka’bah dan menyerukan azan. Maka sebagian penduduk Mekkah (yang tidak tahu bahwa di Madinah Bilal bin Rabah biasa menunaikan tugas menyerukan azan) terkaget-kaget. Ada yang berkata: “Budak hitam inikah yang azan di atas Ka‘bah?” (dalam riwayat lain di kitab Tafsir al-Baghawi al-Harits bin Hisyam mengejek dengan mengatakan: “Apakah Muhammad tidak menemukan selain burung gagak ini untuk berazan?”). Yang lain berkata, “Jika Allah membencinya, tentu akan menggantinya.” Lalu turunlah ayat 13 surat al-Hujurat.

Kisah kedua: Abu Hind adalah bekas budak yang kemudian bekerja sebagai tukang bekam. Nabi meminta kepada Bani Bayadhah untuk menikahkan salah satu putri mereka dengan Abu Hind. Tapi mereka menolak dengan alasan: “Ya Rasul, bagaimana kami hendak menikahkan putri kami dengan bekas budak kami?” Lalu turunlah ayat 13 surat al-Hujurat.

Dari sinilah ayat yang berkaitan dengan kasus diatas untuk kita bahas:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Pesan ayat ditas begitu universal; ia menghapus “kasta” dalam masyarakat Arab; menegaskan kembali bahwa sebagai hamba Allah bukan nasab, harta, bentuk rupa atau status pekerjaan yang menentukan keutamaan hamba Allah, tetapi ketakwaan. Dan ketakwaan itu tidak bisa dibeli atau diraih dengan mengandalkan keutamaan nasab, suku atau marga,akan tetapi dengan ilmu amal shalih dan riyadhoh , sehingga mereka orang yang berilmu dan bertaqwa diangkat derajatnya , sayang belakangan ini malah banyak yang hendak mengembalikan “kasta” masyarakat Arab yang sudah dihapus Nabi ini.


‎أخرج مسلم وابن ماجه عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال: قال رسول اللَّه صلّى اللَّه عليه وسلّم: إن اللَّه لا ينظر إلى صوركم وأموالكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

Imam Muslim dan Ibn Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Allah tidak memandang kepada penampilan dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian”

Andaikan seseorang mempunyai nasab yang bagus, tentu patut disyukuri dengan ucapan alhamdulillah. Pakaian, kupyah, surban bisa dipakai ke mana-mana untuk menghiasi badan agar supaya lebih tanpan, namun jika amalnya jelek dan akhlak buruk, maka itu adalah sebuah keniscayaan oleh karena dikatakan dalam sebuah maqolah hakikat tanpan dan cantik “

ليس الجمال بأثواب تزيننا# ولكن الجمال جمال العلم والآداب

Tiadalah ketampanan/kecantikan itu dengan banyaknya pakaian yang kita kenakan # Akan tetapi ketampanan dan kecantikan yang sebenarnya adalah tampan ilmu dan adab.

Maka dari itu ingatlah dengan ayat di atas: bekas budak hitam legam seperti Bilal bin Rabah pun bisa jadi jauh lebih mulia. Semoga putihnya surban dan gamis kita itu juga seputih hati dan perbuatan kita. Amin ya Allah.

Potongan ayat di atas juga sangat ‘modern’ sekali: diciptakanNya kita berbeda suku bangsa untuk “saling mengenal”. Apa maksudnya? Keragaman itu merupakan sarana untuk kemajuan peradaban. Kalau seseorang hanya lahir di suku saja, tidak pernah mengenal budaya orang lain, tidak pernah bergaul dengan berbagai macam anak bangsa, dan hanya tahunya orang yang ada di sekitarnya saja, maka sikap dan tindak-tanduknya tentu tidak akan ada perkembangan, oleh karenanya Al-Qur’an mengenalkan konsep yang luar biasa: keragaman itu untuk saling mengenal satu sama lain. Dengan saling mengenal perbedaan seseorang bisa belajar membangun peradaban. Dengan saling tahu perbedaan di antara yang satu dan yang lainnya maka akan lebih menubuhkan sikap toleran; sehingga dapat kesempatan untuk belajar satu sama lain. Adapun Kesalah pahaman yang sering terjadi itu timbul karena tidak adanya atau belum saling mengenal keragaman di antara sesama manusia.

Imam Sufyan al Tsauri juga memberikan statement dengan menyatakan bahwa kesepadanan tidak dipertimbangkan dalam keturuanan, karena sesungguhnya manusia adalah sama berdasar sebuah hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Tidak ada keistimewaan bagi orang arab atas selain arab, juga tidak bagi selain arab atas orang arab, juga tidak bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, juga tidak bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan taqwa”, dan hal itu diperkuat dengan firman Allah “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”.
Dari pendapat Imam Malik dan Imam Sufyan as-Stauri sesuai keterangan dalam Kitab Tafsir Thobari disebutkan : Bahwa yang paling taqwa itu yang paling utama dan paling mulia di sisi Allah SWT, tanpa memandang gelar dan Nasab tanpa menafikan kemulian-kemulian khusus yang dimiliki dzurriyah Rosul SAW.

كذا وكذا.

وقوله ( إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ) يقول تعالى ذكره: إن أكرمكم أيها الناس عند ربكم, أشدّكم اتقاء له بأداء فرائضه واجتناب معاصيه, لا أعظمكم بيتا ولا أكثركم عشيرة.

حدثني يونس, قال: أخبرنا ابن وهب, قال: ثني ابن لهيعة, عن الحارث بن يزيد, عن عليّ بن رباح, عن عقبة بن عامر, عن رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قال: ” النَّاسُ لآدَمَ وَحَوَّاءَ كَطَفِّ الصَّاعِ لَمْ يَمْلأوهُ, إنَّ اللّهُ لا يسألُكُمْ عَنْ أحْسابِكُمْ وَلا عَنْ أنْسابِكُمْ يَوْمَ القِيامَةِ, إن أكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّهِ أتْقاكُمْ”.


Dalam keterangan yang lain Rasulullah Sollallahu Alaihi wasallam bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ إِلَّا بِالتَّقْوَى) رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ.
العجمي خلاف العربي وقد يحسن اللغة العربية، أمّا الأعجمي فهو من كان في لسانه عجمة عند نطقه باللغة العربية وَإِنْ كَانَ عَرَبِيًّا وإن أفصح بالعجمية كالعربي الذي يعيش في بلاد العجم.
قال الرّازيُّ في مختار الصّحاحِ (الْأَعْجَمُ) أَيْضًا الَّذِي لَا يُفْصِحُ وَلَا يُبَيِّنُ كَلَامَهُ وَإِنْ كَانَ مِنَ الْعَرَبِ وَالْمَرْأَةُ (عَجْمَاءُ) وَ(الْأَعْجَمُ) أَيْضًا الَّذِي فِي لِسَانِهِ عُجْمَةٌ وَإِنْ أَفْصَحَ بِالْعَجَمِيَّةِ.
وقال الفيومي في المصباح المنير(ع ج م) الْعُجْمَةُ فِي اللِّسَانِ بِضَمِّ الْعَيْنِ لُكْنَةٌ وَعَدَمُ فَصَاحَةٍ، وَعَجُمَ بِالضَّمِّ عُجْمَةً فَهُوَ أَعْجَمُ وَالْمَرْأَةُ عَجْمَاءُ وَهُوَ أَعْجَمِيٌّ بِالْأَلِفِ عَلَى النِّسْبَةِ لِلتَّوْكِيدِ أَيْ غَيْرُ فَصِيحٍ وَإِنْ كَانَ عَرَبِيًّا.
كان النبي صلى الله عليه وسلم أعظم خَلق الله صلى الله عليه وسلم على درجة رفيعة من الخُلق مع صحابته الكرام رضوان الله عليهم، فلم يكن يستعلي على أحد منهم بل كان متواضعا وكان يقابلهم بالوجه الحسن المبتسم ويكلمهم بأسلوب هادىء رزين ويشاركهم في أفراحهم وأتراحهم، وكان يعامل الصحابة جميعا معاملة واحدة حتى يظن أحدهم أن الرسول عليه الصلاة والسلام لا يعامل أحدا بمثل ما يعامله من الرفق واللطف، كما أنه عليه الصلاة والسلام كان يشاورهم في الحروب دون تمييز أو تفريق بينهم عربا كانوا أم عجما، فقد أخذ برأي سيدنا سلمان الفارسي رضي الله عنه بحفر الخندق في غزوة الأحزاب، وجعل سيدنا بلالا رضي الله عنه مؤذنه الخاص وهو حبشي وقال عليه الصلاة والسلام (أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى) رواه الإمام أَحمد.
فينبغي أن يلتفت الزعماء والمسؤولون والتجار والعلماء والموظفون وسائر الناس إلى هذه الأخلاق النبيلة التي اتصف بها الرسول عليه الصلاة والسلام ليجعلوها صفة دائمة في حياتهم مع الناس فلا يتكبروا على عباد الله ولا يظلموهم ولا يغشوهم ولا يصعبوا أمورهم فإن الاقتداء بالرسول صلى الله عليه وسلم يوصل إلى الفلاح والسعادة في الدارين.

Imam Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata al-Dimyati di dalam kitabnya (I’anah al Thalibin) juga mengkategorikan bahwa kufuah adalah kesepadanan suami dengan istri dalam kesempurnaan atau kerendahan (kasta) selain keselamatan dari aib pernikahan. al-Dimyati juga menuturkan bahwa kesepadanan menjadi pertimbangan dalam pernikahan, namun bukan untuk keafsahan pernikahan (pada lazimnya), maka tidak menutup kemungkinan “kesepadanan” menjadi sebuah pertimbangan untuk keafsahan pernikahan, sebagaimana penikahan secara paksa. al-Dimyati juga mengutip redaksi yang terdapat di dalam kitab “al Tuhfah” yang menyatakan bahwa “kesepadanan” dipertimbangkan dalam pernikahan, (namun) tidak untuk keafsahannya secara mutlak, namun sekiranya tidak ada kerelaan dari pihak wanita sendiri dalam pengebirian dan lemah dzakar, dan hanya beserta wali terdekatnya dalam selain keduanya. Hal senada juga dituangkan di dalam kitab “al Nihayah”. Pernyataan pengarang “namun sekiranya tidak ada kerelaan” merupakan perbandingan untuk kalimat “namun tidak untuk keafsahannya secara mutlak”, maka seakan-akan diucapkan “(kesepadanan) bukan merupakan pertimbangan untuk keafsahan secara mutlak, dan yang menjadi pertimbangan adalah sekiranya tidak ada kerelaan.” (Dikutip dari Imam Ali bin Ali al Syibramulisi, ﻉ ﺵ ). al-Dimyati menjelaskan bahwa pada intinya kesepadanan dipertimbangkan sebagai syarat untuk keafsahan jika tidak ada kerelaan, namun jika dengan kerelaannya, maka kesepadanan tidak menjadi syarat. Dan seterusnya. al-Dimyati menyatakan bahwa ketentuan semacam itu karena Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam pernah menikahkan putrinya dengan pria yang tidak sepadan, beliau juga memerintahkan terhadap Fatimah binti Qais (keturunan Quraisy) untuk menikahi Usamah (seorang budak). Ia pun menikahinya. al-Dimyati menegaskan “Jika kesepadanan merupakan syarat untuk keafsahan pernikahan secara mutlak, maka hal itu (pernikahan Fatimah dengan Usamah) tidak sah”.

Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi di dalam kitabnya (Bughyah al Mustarsyidin) memiliki pandangan yang berbeda dengan pakar Fiqh yang lain. Beliau menyatakan bahwa seorang wanita arab yang memiliki kasta keturunan yang tinggi (syarifah) telah dilamar pria yang tidak memiliki kasta keturunan yang tinggi (bukan sayyid/habib), maka saya tidak menetapkan kebolehan untuk menikah walaupun ia (syarifah) dan walinya rela dan menyetujuinya, karena kasta keturunan yang mulia ini tidak dapat dibandingi. Dan bagi setiap keturunan (Fatimah) al Zahra’ terdapat hak wali terdekat dan wali yang jauh dan persetujuan mereka semua. Ba’alawi juga mengungkapkan bahwa pernah terjadi di Mekah seorang pria arab biasa menikahi seorang syarifah, maka para pemimpin disana yang dibantu oleh para Ulama’ menentang dan menyerang hingga memisahkannya. Hal yang sama juga terjadi di Negara lain. Maka para cendekiawan mengarang dan menulis buku tentang ketidak bolehannya bahkan melepaskan kecemburuan dengan kasta keturunan ini untuk menganggap ringan dan meremehkannya. Ba’alawi juga mengungkapkan bahwa jika para pakar Fiqh menyatakan sah dengan kerelaannya juga walinya, maka Ulama’ terdahulu kami memiliki usaha untuk melemahkan para pakar Fiqh dari menemukan rahasia dibalik hal itu. Selamatkanlah dirimu, maka engkau akan selamat. Jangan menentang, niscaya engkau akan merugi dan menyesal. Ba’alawi juga mengutip pernytaaan seorang Ulama’ ( ﻱ ) yang mengisyaratkan agar mengikuti jejak Ulama’ terdahulu, karena mereka adalah suri teladan bagi kita dan seterusnya. Kecuali dapat menimbulkan kerusakan dengan tidak menikahkan, maka hal itu diperbolehkan karena darurat, sebagaimana (kebolehan) mengkonsumsi bangkai dalam kondisi darurat. Dan yang saya maksud dengan “kerusakan” adalah kekhawatiran berzina atau melakukan tindakan keji dan tidak ditemukan (dari kalangan sayyid/habib) yang dapat menjaganya, atau tidak ada pria dari kalangan yang sepadan yang menyukainya. (Kebolehan semacam itu) adalah untuk meminimalisir dua keburukan dan kerusakan, bahkan hal itu adalah tindakan yang harus dilakukan oleh semisal hakim tanpa kesepadanan, sebagaimana uraian yang terdapat di dalam kitab “al Tuhfah”.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kufu’ ( kesepadanan ) dalam kasta keturunan bukan merupakan syarat untuk keafsahan penikahan, melainkan kufu’ sebagai syarat tetapnya perkawinan, oleh karena itu jika seorang perempuan syarifah menikah  dengan lelaki akhwal  yang tidak sekufu’ maka akad nikahnya tetap sah, hanya saja tidak memenuhi syarat dalam mempertahankan tetapnya pernikahan, walaupun demikian masih diperbolehkan bagi pria dari kasta keturunan biasa menikahi wanita dari kalangan syarifah. Akan tetapi  jika mengacu kepada pendapat yang dikemukakan oleh Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi, maka pernikahan semacam itu tidak boleh terjadi kecuali dalam kondisi darurat.

Referensi:

الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٥٢٢/ ٧٧٢٢
المبحث الثاني ـ نوع شرط الكفاءة:
هل الكفاءة شرط صحة أو شرط لزوم؟ اتفق فقهاء المذاهب الأربعة في الراجح عند الحنابلة والمعتمد عند المالكية والأظهر عند الشافعية (١) على أن الكفاءة شرط لزوم في الزواج، وليست شرطا في صحة النكاح، فإذا تزوجت المرأة غير كفء، كان العقد صحيحا، وكان لأوليائها حق الاعتراض عليه وطلب فسخه، دفعا لضرر العار عن أنفسهم، إلا أن يسقطوا حقهم في الاعتراض فيلزم، ولو كانت الكفاءة شرط صحة لما صح، حتى ولو أسقط الأولياء حقهم في الاعتراض؛ لأن شرط الصحة لا يسقط بالإسقاط. وأخذ القانون السوري (م ٢٦) باعتبار كون  الكفاءة شرط لزوم، ونص هذه المادة: «يشترط في لزوم الزواج أن يكون الرجل كفئا للمرأة» ونصت المادة (٢٧) على أنه: «إذا زوجت الكبيرة نفسها من غير موافقة الولي، فإن كان الزوج كفئا، لزم العقد، وإلا فللولي طلب فسخ النكاح» وهذا هو المختار لدى واضعي قانون الأحوال الشخصية في مصر.

Referensi;

. ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﻮﻳﺘﻴﺔ ‏( /٣٤ ٢٧٢ )
ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨِﺼَﺎﻝ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺒَﺮَﺓِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜَﻔَﺎﺀَﺓِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﺤَﻨَﻔِﻴَّﺔِ، ﻭَﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻴَّﺔِ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻨَﺎﺑِﻠَﺔِ ﺍﻟﻨَّﺴَﺐُ، ﻭَﻋَﺒَّﺮَ ﻋَﻨْﻪُ ﺍﻟْﺤَﻨَﺎﺑِﻠَﺔُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻨْﺼِﺐِ، ﻭَﺍﺳْﺘَﺪَﻟُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﺑِﻘَﻮْﻝ ﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﻨْﻪُ : ﻷََﻣْﻨَﻌَﻦَّ ﻓُﺮُﻭﺝَ ﺫَﻭَﺍﺕِ ﺍﻷَْﺣْﺴَﺎﺏِ ﺇِﻻَّ ﻣِﻦَ ﺍﻷَْﻛْﻔَﺎﺀِ، ﻭَﻓِﻲ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ ﻗُﻠْﺖُ : ﻭَﻣَﺎ ﺍﻷَْﻛْﻔَﺎﺀُ؟ ﻗَﺎﻝ : ﻓِﻲ ﺍﻷَْﺣْﺴَﺎﺏِ ‏( ١ ‏) ؛ ﻭَﻷَِﻥَّ ﺍﻟْﻌَﺮَﺏَ ﻳَﻌْﺘَﻤِﺪُﻭﻥَ ﺍﻟْﻜَﻔَﺎﺀَﺓَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺴَﺐِ ﻭَﻳَﺘَﻔَﺎﺧَﺮُﻭﻥَ ﺑِﺮِﻓْﻌَﺔِ ﺍﻟﻨَّﺴَﺐِ، ﻭَﻳَﺄْﻧَﻔُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻧِﻜَﺎﺡِ ﺍﻟْﻤَﻮَﺍﻟِﻲ، ﻭَﻳَﺮَﻭْﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻧَﻘْﺼًﺎ ﻭَﻋَﺎﺭًﺍ؛ ﻭَﻷَِﻥَّ ﺍﻟْﻌَﺮَﺏَ ﻓَﻀَﻠَﺖِ ﺍﻷُْﻣَﻢَ ﺑِﺮَﺳُﻮﻝ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ . ﻭَﺍﻻِﻋْﺘِﺒَﺎﺭُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺴَﺐِ ﺑِﺎﻵْﺑَﺎﺀِ؛ ﻷَِﻥَّ ﺍﻟْﻌَﺮَﺏَ ﺗَﻔْﺘَﺨِﺮُ ﺑِﻪِ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺩُﻭﻥَ ﺍﻷُْﻣَّﻬَﺎﺕِ، ﻓَﻤَﻦِ ﺍﻧْﺘَﺴَﺒَﺖْ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺸْﺮُﻑُ ﺑِﻪِ ﻟَﻢْ ﻳُﻜَﺎﻓِﺌْﻬَﺎ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻛَﺬَﻟِﻚَ، ﻓَﺎﻟْﻌَﺠَﻤِﻲُّ ﺃَﺑًﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺃُﻣُّﻪُ ﻋَﺮَﺑِﻴَّﺔً ﻟَﻴْﺲَ ﻛُﻒْﺀَ ﻋَﺮَﺑِﻴَّﺔٍ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺃُﻣُّﻬَﺎ ﻋَﺠَﻤِﻴَّﺔً؛ ﻷَِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺍﺻْﻄَﻔَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮَﺏَ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻴْﺮِﻫِﻢْ، ﻭَﻣَﻴَّﺰَﻫُﻢْ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﺑِﻔَﻀَﺎﺋِﻞ ﺟَﻤَّﺔٍ، ﻛَﻤَﺎ ﺻَﺤَّﺖْ ﺑِﻪِ ﺍﻷَْﺣَﺎﺩِﻳﺚُ ‏( ٢ ‏) . ﻭَﺫَﻫَﺐَ ﻣَﺎﻟِﻚٌ ﻭَﺳُﻔْﻴَﺎﻥُ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِﻱُّ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺪَﻡِ ﺍﻋْﺘِﺒَﺎﺭِ ﺍﻟﻨَّﺴَﺐِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜَﻔَﺎﺀَﺓِ، ﻗِﻴﻞ ﻟِﻤَﺎﻟِﻚٍ : ﺇِﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﻫَﺆُﻻَﺀِ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﻓَﺮَّﻗُﻮﺍ ﺑَﻴْﻦَ ﻋَﺮَﺑِﻴَّﺔٍ ﻭَﻣَﻮْﻟًﻰ، ﻓَﺄَﻋْﻈَﻢَ ﺫَﻟِﻚَ ﺇِﻋْﻈَﺎﻣًﺎ ﺷَﺪِﻳﺪًﺍ ﻭَﻗَﺎﻝ : ﺃَﻫْﻞ ﺍﻹِْﺳْﻼَﻡِ ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﺃَﻛْﻔَﺎﺀٌ، ﻟِﻘَﻮْﻝ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻨْﺰِﻳﻞ : } ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺃُﻧْﺜَﻰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَﺎﺋِﻞ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ { ، ‏( ١ ‏) ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺳُﻔْﻴَﺎﻥُ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِﻱُّ ﻳَﻘُﻮﻝ : ﻻَ ﺗُﻌْﺘَﺒَﺮُ ﺍﻟْﻜَﻔَﺎﺀَﺓُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺴَﺐِ؛ ﻷَِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺳَﻮَﺍﺳِﻴَﺔٌ ﺑِﺎﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ‏( ٢ ‏) ، ﻗَﺎﻝ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﻻَ ﻓَﻀْﻞ ﻟِﻌَﺮَﺑِﻲٍّ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺠَﻤِﻲٍّ، ﻭَﻻَ ﻟِﻌَﺠَﻤِﻲٍّ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺮَﺑِﻲٍّ، ﻭَﻻَ ﻷَِﺣْﻤَﺮَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺳْﻮَﺩَ، ﻭَﻻَ ﺃَﺳْﻮَﺩَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺣْﻤَﺮَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺎﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ‏( ٣ ‏) ، ﻭَﻗَﺪْ ﺗَﺄَﻳَّﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ

Referensi:

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺣﻞ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ‏(٣ /٣٧٧ )

ﻭﺿﺎﺑﻄﻬﺎ ﻣﺴﺎﻭﺍﺓ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻟﻠﺰﻭﺟﺔ ﻓﻲ ﻛﻤﺎﻝ ﺃﻭ ﺧﺴﺔ ﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﺍﻟﺴﻼﻣﺔ ﻣﻦ ﻋﻴﻮﺏ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ‏( ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻫﻲ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﻜﻔﺎﺀﺓ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻣﻌﺘﺒﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻻ ﻟﺼﺤﺘﻪ ﺃﻱ ﻏﺎﻟﺒﺎ ﻓﻼ ﻳﻨﺎﻓﻲ ﺃﻧﻬﺎ ﻗﺪ ﺗﻌﺘﺒﺮ ﻟﻠﺼﺤﺔ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺰﻭﻳﺞ ﺑﺎﻹﺟﺒﺎﺭ ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ ﻭﻫﻲ ﻣﻌﺘﺒﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻻ ﻟﺼﺤﺘﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﺑﻞ ﺣﻴﺚ ﻻ ﺭﺿﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﺣﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺟﺐ ﻭﻻ ﻋﻨﺔ ﻭﻣﻊ ﻭﻟﻴﻬﺎ ﺍﻷﻗﺮﺏ ﻓﻘﻂ ﻓﻴﻤﺎ ﻋﺪﺍﻫﻤﺎ ﺍﻩ ﻭﻣﺜﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺑﻞ ﺣﻴﺚ ﻻ ﺭﺿﺎ ﻣﻘﺎﺑﻞ ﻗﻮﻟﻪ ﻻ ﻟﺼﺤﺘﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻓﻜﺄﻧﻪ ﻗﻴﻞ ﻻ ﺗﻌﺘﺒﺮ ﻟﻠﺼﺤﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺗﻌﺘﺒﺮ ﺣﻴﺚ ﻻ ﺭﺿﺎ ﺍﻩ ﻉ ﺵ ‏) ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ‏) ﺍﻟﻜﻔﺎﺀﺓ ﺗﻌﺘﺒﺮ ﺷﺮﻁ ﻟﻠﺼﺤﺔ ﻋﻨﺪ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺮﺿﺎ ﻭﺇﻻ ﻓﻠﻴﺴﺖ ﺷﺮﻃﺎ ﻟﻬﺎ …………. ﺍﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ . ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺯﻭﺝ ﺑﻨﺎﺗﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻛﻒﺀ ﻭﻻ ﻣﻜﺎﻓﻰﺀ ﻟﻬﻦ ﻭﺃﻣﺮ ﻓﺎﻃﻤﺔ ﺑﻨﺖ ﻗﻴﺲ ﻧﻜﺎﺡ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﻓﻨﻜﺤﺘﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﻮﻟﻰ ﻭﻫﻲ ﻗﺮﺷﻴﺔ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﺷﺮﻃﺎ ﻟﻠﺼﺤﺔ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻟﻤﺎ ﺻﺢ ﺫﻟﻚ

Referensi

ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ – ‏( ﺝ ١ / ﺹ ٤٣٩ )

( ﻣﺴﺄﻟﺔ ‏)

ﺷﺮﻳﻔﺔ ﻋﻠﻮﻳﺔ ﺧﻄﺒﻬﺎ ﻏﻴﺮ ﺷﺮﻳﻒ ﻓﻼ ﺃﺭﻯ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻭﺇﻥ ﺭﺿﻴﺖ ﻭﺭﺿﻲ ﻭﻟﻴﻬﺎ ، ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﺴﺐ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻻ ﻳﺴﺎﻣﻰ ﻭﻻ ﻳﺮﺍﻡ ، ﻭﻟﻜﻞ ﻣﻦ ﺑﻨﻲ ﺍﻟﺰﻫﺮﺍﺀ ﻓﻴﻪ ﺣﻖ ﻗﺮﻳﺒﻬﻢ ﻭﺑﻌﻴﺪﻫﻢ ، ﻭﺃﺗﻰ ﺑﺠﻤﻌﻬﻢ ﻭﺭﺿﺎﻫﻢ ، ﻭﻗﺪ ﻭﻗﻊ ﺃﻧﻪ ﺗﺰﻭّﺝ ﺑﻤﻜﺔ ﺍﻟﻤﺸﺮﻓﺔ ﻋﺮﺑﻲ ﺑﺸﺮﻳﻔﺔ ، ﻓﻘﺎﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺴﺎﺩﺓ ﻫﻨﺎﻙ ﻭﺳﺎﻋﺪﻫﻢ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻭﻫﺘﻜﻮﻩ ﺣﺘﻰ ﺇﻧﻬﻢ ﺃﺭﺍﺩﻭﺍ ﺍﻟﻔﺘﻚ ﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﻓﺎﺭﻗﻬﺎ ، ﻭﻭﻗﻊ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺑﻠﺪ ﺃﺧﺮﻯ ، ﻭﻗﺎﻡ ﺍﻷﺷﺮﺍﻑ ﻭﺻﻨﻔﻮﺍ ﻓﻲ ﻋﺪﻡ ﺟﻮﺍﺯ ﺫﻟﻚ ﺣﺘﻰ ﻧﺰﻋﻮﻫﺎ ﻣﻨﻪ ﻏﻴﺮﺓ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﺴﺐ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺨﻒّ ﺑﻪ ﻭﻳﻤﺘﻬﻦ ، ﻭﺇﻥ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺇﻧﻪ ﻳﺼﺢ ﺑﺮﺿﺎﻫﺎ ﻭﺭﺿﺎ ﻭﻟﻴﻬﺎ ﻓﻠﺴﻠﻔﻨﺎ ﺭﺿﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭﺍﺕ ﻳﻌﺠﺰ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﻋﻦ ﺇﺩﺭﺍﻙ ﺃﺳﺮﺍﺭﻫﺎ ، ﻓﺴﻠَّﻢ ﺗﺴﻠﻢ ﻭﺗﻐﻨﻢ ، ﻭﻻ ﺗﻌﺘﺮﺽ ﻓﺘﺨﺴﺮ ﻭﺗﻨﺪﻡ . ﻭﻓﻲ ﻱ ﺍﻟﻤﺘﻘﺪﻡ ﻣﺎ ﻳﻮﻣﻰﺀ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﺃﺷﺮﻧﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺴﻠﻒ ، ﺇﺫ ﻫﻢ ﺍﻷﺳﻮﺓ ﻟﻨﺎ ﻭﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ، ……………. ﺍﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻻ ﺇﻥ ﺗﺤﻘﻘﺖ ﺍﻟﻤﻔﺴﺪﺓ ﺑﻌﺪﻡ ﺍﻟﺘﺰﻭﻳﺞ ﻓﻴﺒﺎﺡ ﺫﻟﻚ ﻟﻠﻀﺮﻭﺭﺓ ، ﻛﺄﻛﻞ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﻟﻠﻤﻀﻄﺮ ، ﻭﺃﻋﻨﻲ ﺑﺎﻟﻤﻔﺴﺪﺓ ﺧﻮﻑ ﺍﻟﺰﻧﺎ ، ﺃﻭ ﺍﻗﺘﺤﺎﻡ ﺍﻟﻔﺠﺮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﻬﻤﺔ ﻭﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ ﻫﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﻳﺤﺼﻨﻬﺎ ، ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﺮﻏﺐ ﻣﻦ ﺃﺑﻨﺎﺀ ﺟﻨﺴﻬﺎ ﺍﺭﺗﻜﺎﺑﺎً ﻷﻫﻮﻥ ﺍﻟﺸﺮﻳﻦ ﻭﺃﺧﻒ ﺍﻟﻤﻔﺴﺪﺗﻴﻦ ، ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﺠﺐ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻧﺤﻮ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﻟﻜﻒﺀ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍلتحفة . والله أعلم بالصواب .

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *